Kamis, 11 Februari 2016

TERNYATA TAKTIK






Seperti apa cinta itu? Aku sungguh tak tau menau akan satu kata itu. Mereka bilang cinta itu indah, mereka bilang dengan cinta kita akan bahagia. Tapi sungguh aku bertanya. Dia, sosok yang kukenal, sekedar kagum aku terhadapnya. Semuanya bermula dari keseharianku bersamanya dalam satu lingkup organisasi. Dari organisasi itu, aku tau nama dan kesenangannya. Mungkin konyol, namun ini kisahku.
 Sudah berjalan lima bulan aku mengaguminya, meski hanya akuan.
 "Aku cuma mengidolakannya, sungguh. Karena dia baik, hanya itu."
Kalimat itulah yang selalu kulontarkan pada teman-temanku.
"Apa itu, adalah ungkapan dari hati kecilmu?" balas beberapa dari mereka.
Jika aku diminta untuk bertanya pada hati kecilku, sungguh aku akan semakin bingung.
"Jika aku bilang aku menyukainya, apa itu betul? Tapi, entahlah."
 Pria setinggi 170-an cm, dia-lah yang kurasa berhasil memikat hati ini.
"Langi, sungguh, baru kali ini aku melihatmu betul-betul menyukai seorang pria. Padahal, sebelum-sebelumnya kamu terlihat cuek dan acuh kalau bicara seperti ini."
 Aneh! Aku memang terbilang cuek soal urusan cowok, tapi semenjak aku mengenalnya, semua pandangan itu berubah. Pandangan, yang mengatakan bahwa pria itu, adalah banci yang hanya bisa mempermainkan hati wanita. Namun, dia berhasil mengikis pandanganku itu. Perhatian dan lirikannya, itu yang membuatku kuat diatas pendirian rasa baru ini.
Namun, lagi-lagi karena waktu. Bukan maksud aku menyalahkan sang waktu, tapi sungguh dia kembali salah menempatkanku di posisi seperti ini. Disaat aku merasa telah mantap dengan perasaan ini, yang ada hanya sebuah kekecewaan bahkan pukulan keras yang kutemui. Dia, orang baik, ternyata idola semua orang, sekalipun sahabatku sendiri. Awalnya aku mengira dia menyukaiku, memang seperti itu adanya. Namun, jika melihat sahabatku, sungguh sulit untuk kuteriakkan isi hatiku sendiri.
 "Pelangi.... Apa kamu ingin menjadi pacarku?" ucapnya waktu itu.
 Senang rasanya, hanya saja.....
 "Aku butuh waktu," balasku berlalu.
 Setelah kuceritakan semuanya pada sahabatku, Sita, bahwa Rangga telah menyatakan perasaannya, yang ada dia tampak terlihat kecewa. Miris... Hingga aku putuskan.
"Maaf, Ga. Aku gak bisa," jawabku dengan berat hati.

Aku fikir, jauh akan lebih baik jika aku memilih sahabatku. Hingga berlalu waktu, berganti hari demi hari. Disaat kutemui ponsel Sita, ternyata diam-diam dia selalu mengirimkan Rangga pesan singkat. Dan itu yang membuatku seakan kecewa sejadi-jadinya. Kulepaskan cinta demi sahabatku. Jika sakit, apa itu sebuah jawaban yang tepat.
"Sita, kamu kok tega banget, sih. Aku menolak Rangga, karena aku peduli dengan perasaanmu. Tapi, apa balasanmu? Inikah yang dikatakan sahabat?"
"Ini bukan persahabatan, tapi ini taktik."
Kata-kata yang menusuk,  mempercayai seseorang sepertinya adalah sebuah kebodohan. Tapi, semuanya hanya sesaat. Sakit hatiku pun hanya sesaat, seperti cepatnya detik beralih ke detik selanjutnya. Melepaskan cinta dan kehilangan sahabat, itulah pukulan yang akan kuterima. Ternyata, selama ini yang kuterima dari Sita, adalah sebuah sodoran sandiwara belaka.
Jika cinta sejati itu ada, telah kuketahui dia bukan untukku. Sebab Rangga, kini telah pergi tinggalkan sebekas penyesalan untukku.
“Mengapa dulu aku tak menerimanya saja?” itulah sesalku.
                Sahabat, tak lagi menjadi sahabat. Dan cinta, tak lagi menjadi cinta. Sebab keduanya, hanya penyesalan yang semestinya tak pernah ada.

0 komentar:

Posting Komentar