Malam ini, tepat pukul 22.15, kulangkahkan
kakiku pelan menuju jendela kaca di ujung sudut sana. Rupanya, gerimis hanya
hadir sesaat. Kembali angan-anganku melayang ciptakan sebuah cerita romansa
yang tak mungkin pernah akan terwujud.
“Andai perasaan ini tak pernah ada, mungkin
aku tak akan sebingung ini.” Kalimat yang selalu kuulangi terus-menerus, seakan
menyesalinya.
***
November
lalu, saat suasana hikmat Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih. Sepasang mata
penjelajah ini, berhasil menangkap sosok pria berperawakan manis di barisan
paling depan kelas XI IA 2. Baru pertama kali aku melihatnya, “apa ia anak
baru?” tanyaku kala itu.
Lepas
dari itu, rupanya pria yang selama ini kusebut lelaki November. Ternyata,
adalah salah satu anggota dari lingkup organisasi yang kugeluti telah hampir
setahun ini. Namanya, Radit.
“Oh.... Jadi namanya Radit. Kok, aku baru
liat, ya?”
“Bukan kamunya yang baru lihat, tapi memang
dia baru aktif, belakangan ini,” balas Rani, sahabatku.
Sudah
kuduga sebelumnya, aku yang telah lama jatuh cinta, dan bergabung pada
organisasi Cinta Alam ini, mana mungkin tidak tahu anggotanya. Bahkan sampai
kakek-nenek setiap anggotanya pun aku tahu. Radit.... bagiku ia adalah sebuah
misteri.
Di
hari Sumpah Pemuda, kami para anggota organisasi Cinta Alam, akan melakukan
kunjungan ke Gunung. Aku yang ditunjuk sebagai koordinator, sudah pasti harus
bertanggung jawab penuh atas semua jalannya kegiatan.
“Ya... Kegiatan kita, tak lama lagi akan
berjalan. Jadi saya harapkan keseriusan dari setiap anggota untuk dapat
mengikutinya dengan antusias, sebagai bagian dari program kegiatan kita.”
Disela pembicaraan dalam rapat, tiba-tiba ia datang dengan air muka yang
terlihat kelelahan, bak peserta lari Maraton.
“Maaf... Saya terlambat.”
“Tidak apa-apa, silahkan masuk.”
Hanya
sekilas, dan itu pembicaraan pertamaku dengannya. Dengan lelaki November, yang
kurasa telah berhasil mengikat perasaan yang mendalam padaku. Selama rapat
berjalan, kualihkan pimpinan ke ketua panitia acara.
Kulangkahkan
kakiku pelan menuju bangku di sudut kelas XI IS 1. Kuraih ponsel di saku
bajuku. –Maaf... Saya terlambat- *pesan masuk.
Di
layar ponsel itu tak tertera nama kontak yang kukenali. Aku fikir itu hanya
nomor adik kelas yang berhubung terlambat masuk rapat, seperti isi pesannya.
“Tapi tunggu, bukankah yang paling terlambat tadi, adalah Radit.”
Kulirik
pria itu, tepat di balik punggung tegapnya. Dap.... Dup.... Dap... Dup...
Seketika jantung ini, seakan hendak lepas dari penyangganya. “Ia berbalik, dan
tersenyum. Manisnya,” batinku mengerang.
Namun,
pertemuan itu hanya kugubris. Senyum itu, lirik itu, dan semuanya. Hanya saja,
entahlah. Mungkin ini GR-ku atau memang seperti itu adanya. Hampir seiap hari
aku melihatnya, bertemu, hingga berpapasan saat di kantin. Ia selalu melirikku,
bahkan tak jarang terselip perhatian dalam setiap kalimatnya yang ia lontarkan
padaku.
“Hai... Ketemu lagi. Sudah makan belum?”
Ucapan itu pun hanya kubalas senyum tipis.
***
Selalu,
dan selalu, waktu berlalu semau yang ia ingini. Hari berganti hari. Serangkaian
acara dalam rapat lalu pun telah berhasil diselenggarakan sesuai target.
Kebersamaan selama acara, membuat semakin yakin untuk tetap berpijak di atas
kakiku sendiri.
Kamu sakit?
Kalau lapar makan saja, gih.
Nih, jaketku kamu pakai saja.
Istirahat, saja kali.
Semua
kata-kata itu. Awalnya aku mengira, ucapan itu tak sepenuhnya adalah perhatian.
Namun, lagi-lagi sang waktu menunjukkan hal lain.
“Nggak tuh. Mungkin dianya perhatian sama
kamu aja kali.”
“Tapi diakan orang baik, tidak menutup kemungkinan,
dia memperlakukan semua orang sama.”
“Sudahlah, Mega. Kalau kamu suka, bilang
aja kali.”
“Kalau aku suka sama dia, mesti gitu aku
yang nembak duluan. Kan, gak lucu.”
“Aduh, Mega. Maksud aku tuh bukan gitu.
Kalau kamu suka sama dia, jujur saja sama aku...”
“Enggak, aku gak boleh suka sama dia,”
potongku.
Tetap
bersih keras aku tak ingin mengakui perasaanku, meski itu hanya curhatan pada
Rani. Sebab, jujur. Sampai sekarang pun aku tak tau menau akan perasanku
sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar