Selasa, 23 Februari 2016

Lelaki November, apa ia kelabu?



 
Malam ini, tepat pukul 22.15, kulangkahkan kakiku pelan menuju jendela kaca di ujung sudut sana. Rupanya, gerimis hanya hadir sesaat. Kembali angan-anganku melayang ciptakan sebuah cerita romansa yang tak mungkin pernah akan terwujud.
“Andai perasaan ini tak pernah ada, mungkin aku tak akan sebingung ini.” Kalimat yang selalu kuulangi terus-menerus, seakan menyesalinya.
***
                November lalu, saat suasana hikmat Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih. Sepasang mata penjelajah ini, berhasil menangkap sosok pria berperawakan manis di barisan paling depan kelas XI IA 2. Baru pertama kali aku melihatnya, “apa ia anak baru?” tanyaku kala itu.
                Lepas dari itu, rupanya pria yang selama ini kusebut lelaki November. Ternyata, adalah salah satu anggota dari lingkup organisasi yang kugeluti telah hampir setahun ini. Namanya, Radit.
“Oh.... Jadi namanya Radit. Kok, aku baru liat, ya?”
“Bukan kamunya yang baru lihat, tapi memang dia baru aktif, belakangan ini,” balas Rani, sahabatku.
                Sudah kuduga sebelumnya, aku yang telah lama jatuh cinta, dan bergabung pada organisasi Cinta Alam ini, mana mungkin tidak tahu anggotanya. Bahkan sampai kakek-nenek setiap anggotanya pun aku tahu. Radit.... bagiku ia adalah sebuah misteri.
                Di hari Sumpah Pemuda, kami para anggota organisasi Cinta Alam, akan melakukan kunjungan ke Gunung. Aku yang ditunjuk sebagai koordinator, sudah pasti harus bertanggung jawab penuh atas semua jalannya kegiatan.
“Ya... Kegiatan kita, tak lama lagi akan berjalan. Jadi saya harapkan keseriusan dari setiap anggota untuk dapat mengikutinya dengan antusias, sebagai bagian dari program kegiatan kita.” Disela pembicaraan dalam rapat, tiba-tiba ia datang dengan air muka yang terlihat kelelahan, bak peserta lari Maraton.
“Maaf... Saya terlambat.”
“Tidak apa-apa, silahkan masuk.”
                Hanya sekilas, dan itu pembicaraan pertamaku dengannya. Dengan lelaki November, yang kurasa telah berhasil mengikat perasaan yang mendalam padaku. Selama rapat berjalan, kualihkan pimpinan ke ketua panitia acara.
                Kulangkahkan kakiku pelan menuju bangku di sudut kelas XI IS 1. Kuraih ponsel di saku bajuku. –Maaf... Saya terlambat- *pesan masuk.
                Di layar ponsel itu tak tertera nama kontak yang kukenali. Aku fikir itu hanya nomor adik kelas yang berhubung terlambat masuk rapat, seperti isi pesannya. “Tapi tunggu, bukankah yang paling terlambat tadi, adalah Radit.”
                Kulirik pria itu, tepat di balik punggung tegapnya. Dap.... Dup.... Dap... Dup... Seketika jantung ini, seakan hendak lepas dari penyangganya. “Ia berbalik, dan tersenyum. Manisnya,” batinku mengerang.
                Namun, pertemuan itu hanya kugubris. Senyum itu, lirik itu, dan semuanya. Hanya saja, entahlah. Mungkin ini GR-ku atau memang seperti itu adanya. Hampir seiap hari aku melihatnya, bertemu, hingga berpapasan saat di kantin. Ia selalu melirikku, bahkan tak jarang terselip perhatian dalam setiap kalimatnya yang ia lontarkan padaku.
“Hai... Ketemu lagi. Sudah makan belum?” Ucapan itu pun hanya kubalas senyum tipis.
***
                Selalu, dan selalu, waktu berlalu semau yang ia ingini. Hari berganti hari. Serangkaian acara dalam rapat lalu pun telah berhasil diselenggarakan sesuai target. Kebersamaan selama acara, membuat semakin yakin untuk tetap berpijak di atas kakiku sendiri.
Kamu sakit?
Kalau lapar makan saja, gih.
Nih, jaketku kamu pakai saja.
Istirahat, saja kali.
                Semua kata-kata itu. Awalnya aku mengira, ucapan itu tak sepenuhnya adalah perhatian. Namun, lagi-lagi sang waktu menunjukkan hal lain.
“Nggak tuh. Mungkin dianya perhatian sama kamu aja kali.”
“Tapi diakan orang baik, tidak menutup kemungkinan, dia memperlakukan semua orang sama.”
“Sudahlah, Mega. Kalau kamu suka, bilang aja kali.”
“Kalau aku suka sama dia, mesti gitu aku yang nembak duluan. Kan, gak lucu.”
“Aduh, Mega. Maksud aku tuh bukan gitu. Kalau kamu suka sama dia, jujur saja sama aku...”
“Enggak, aku gak boleh suka sama dia,” potongku.
                Tetap bersih keras aku tak ingin mengakui perasaanku, meski itu hanya curhatan pada Rani. Sebab, jujur. Sampai sekarang pun aku tak tau menau akan perasanku sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar