Selasa, 23 Februari 2016

Lelaki November, apa ia kelabu?



 
Malam ini, tepat pukul 22.15, kulangkahkan kakiku pelan menuju jendela kaca di ujung sudut sana. Rupanya, gerimis hanya hadir sesaat. Kembali angan-anganku melayang ciptakan sebuah cerita romansa yang tak mungkin pernah akan terwujud.
“Andai perasaan ini tak pernah ada, mungkin aku tak akan sebingung ini.” Kalimat yang selalu kuulangi terus-menerus, seakan menyesalinya.
***
                November lalu, saat suasana hikmat Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih. Sepasang mata penjelajah ini, berhasil menangkap sosok pria berperawakan manis di barisan paling depan kelas XI IA 2. Baru pertama kali aku melihatnya, “apa ia anak baru?” tanyaku kala itu.
                Lepas dari itu, rupanya pria yang selama ini kusebut lelaki November. Ternyata, adalah salah satu anggota dari lingkup organisasi yang kugeluti telah hampir setahun ini. Namanya, Radit.
“Oh.... Jadi namanya Radit. Kok, aku baru liat, ya?”
“Bukan kamunya yang baru lihat, tapi memang dia baru aktif, belakangan ini,” balas Rani, sahabatku.
                Sudah kuduga sebelumnya, aku yang telah lama jatuh cinta, dan bergabung pada organisasi Cinta Alam ini, mana mungkin tidak tahu anggotanya. Bahkan sampai kakek-nenek setiap anggotanya pun aku tahu. Radit.... bagiku ia adalah sebuah misteri.
                Di hari Sumpah Pemuda, kami para anggota organisasi Cinta Alam, akan melakukan kunjungan ke Gunung. Aku yang ditunjuk sebagai koordinator, sudah pasti harus bertanggung jawab penuh atas semua jalannya kegiatan.
“Ya... Kegiatan kita, tak lama lagi akan berjalan. Jadi saya harapkan keseriusan dari setiap anggota untuk dapat mengikutinya dengan antusias, sebagai bagian dari program kegiatan kita.” Disela pembicaraan dalam rapat, tiba-tiba ia datang dengan air muka yang terlihat kelelahan, bak peserta lari Maraton.
“Maaf... Saya terlambat.”
“Tidak apa-apa, silahkan masuk.”
                Hanya sekilas, dan itu pembicaraan pertamaku dengannya. Dengan lelaki November, yang kurasa telah berhasil mengikat perasaan yang mendalam padaku. Selama rapat berjalan, kualihkan pimpinan ke ketua panitia acara.
                Kulangkahkan kakiku pelan menuju bangku di sudut kelas XI IS 1. Kuraih ponsel di saku bajuku. –Maaf... Saya terlambat- *pesan masuk.
                Di layar ponsel itu tak tertera nama kontak yang kukenali. Aku fikir itu hanya nomor adik kelas yang berhubung terlambat masuk rapat, seperti isi pesannya. “Tapi tunggu, bukankah yang paling terlambat tadi, adalah Radit.”
                Kulirik pria itu, tepat di balik punggung tegapnya. Dap.... Dup.... Dap... Dup... Seketika jantung ini, seakan hendak lepas dari penyangganya. “Ia berbalik, dan tersenyum. Manisnya,” batinku mengerang.
                Namun, pertemuan itu hanya kugubris. Senyum itu, lirik itu, dan semuanya. Hanya saja, entahlah. Mungkin ini GR-ku atau memang seperti itu adanya. Hampir seiap hari aku melihatnya, bertemu, hingga berpapasan saat di kantin. Ia selalu melirikku, bahkan tak jarang terselip perhatian dalam setiap kalimatnya yang ia lontarkan padaku.
“Hai... Ketemu lagi. Sudah makan belum?” Ucapan itu pun hanya kubalas senyum tipis.
***
                Selalu, dan selalu, waktu berlalu semau yang ia ingini. Hari berganti hari. Serangkaian acara dalam rapat lalu pun telah berhasil diselenggarakan sesuai target. Kebersamaan selama acara, membuat semakin yakin untuk tetap berpijak di atas kakiku sendiri.
Kamu sakit?
Kalau lapar makan saja, gih.
Nih, jaketku kamu pakai saja.
Istirahat, saja kali.
                Semua kata-kata itu. Awalnya aku mengira, ucapan itu tak sepenuhnya adalah perhatian. Namun, lagi-lagi sang waktu menunjukkan hal lain.
“Nggak tuh. Mungkin dianya perhatian sama kamu aja kali.”
“Tapi diakan orang baik, tidak menutup kemungkinan, dia memperlakukan semua orang sama.”
“Sudahlah, Mega. Kalau kamu suka, bilang aja kali.”
“Kalau aku suka sama dia, mesti gitu aku yang nembak duluan. Kan, gak lucu.”
“Aduh, Mega. Maksud aku tuh bukan gitu. Kalau kamu suka sama dia, jujur saja sama aku...”
“Enggak, aku gak boleh suka sama dia,” potongku.
                Tetap bersih keras aku tak ingin mengakui perasaanku, meski itu hanya curhatan pada Rani. Sebab, jujur. Sampai sekarang pun aku tak tau menau akan perasanku sendiri.

Kamis, 11 Februari 2016

TERNYATA TAKTIK






Seperti apa cinta itu? Aku sungguh tak tau menau akan satu kata itu. Mereka bilang cinta itu indah, mereka bilang dengan cinta kita akan bahagia. Tapi sungguh aku bertanya. Dia, sosok yang kukenal, sekedar kagum aku terhadapnya. Semuanya bermula dari keseharianku bersamanya dalam satu lingkup organisasi. Dari organisasi itu, aku tau nama dan kesenangannya. Mungkin konyol, namun ini kisahku.
 Sudah berjalan lima bulan aku mengaguminya, meski hanya akuan.
 "Aku cuma mengidolakannya, sungguh. Karena dia baik, hanya itu."
Kalimat itulah yang selalu kulontarkan pada teman-temanku.
"Apa itu, adalah ungkapan dari hati kecilmu?" balas beberapa dari mereka.
Jika aku diminta untuk bertanya pada hati kecilku, sungguh aku akan semakin bingung.
"Jika aku bilang aku menyukainya, apa itu betul? Tapi, entahlah."
 Pria setinggi 170-an cm, dia-lah yang kurasa berhasil memikat hati ini.
"Langi, sungguh, baru kali ini aku melihatmu betul-betul menyukai seorang pria. Padahal, sebelum-sebelumnya kamu terlihat cuek dan acuh kalau bicara seperti ini."
 Aneh! Aku memang terbilang cuek soal urusan cowok, tapi semenjak aku mengenalnya, semua pandangan itu berubah. Pandangan, yang mengatakan bahwa pria itu, adalah banci yang hanya bisa mempermainkan hati wanita. Namun, dia berhasil mengikis pandanganku itu. Perhatian dan lirikannya, itu yang membuatku kuat diatas pendirian rasa baru ini.
Namun, lagi-lagi karena waktu. Bukan maksud aku menyalahkan sang waktu, tapi sungguh dia kembali salah menempatkanku di posisi seperti ini. Disaat aku merasa telah mantap dengan perasaan ini, yang ada hanya sebuah kekecewaan bahkan pukulan keras yang kutemui. Dia, orang baik, ternyata idola semua orang, sekalipun sahabatku sendiri. Awalnya aku mengira dia menyukaiku, memang seperti itu adanya. Namun, jika melihat sahabatku, sungguh sulit untuk kuteriakkan isi hatiku sendiri.
 "Pelangi.... Apa kamu ingin menjadi pacarku?" ucapnya waktu itu.
 Senang rasanya, hanya saja.....
 "Aku butuh waktu," balasku berlalu.
 Setelah kuceritakan semuanya pada sahabatku, Sita, bahwa Rangga telah menyatakan perasaannya, yang ada dia tampak terlihat kecewa. Miris... Hingga aku putuskan.
"Maaf, Ga. Aku gak bisa," jawabku dengan berat hati.

Aku fikir, jauh akan lebih baik jika aku memilih sahabatku. Hingga berlalu waktu, berganti hari demi hari. Disaat kutemui ponsel Sita, ternyata diam-diam dia selalu mengirimkan Rangga pesan singkat. Dan itu yang membuatku seakan kecewa sejadi-jadinya. Kulepaskan cinta demi sahabatku. Jika sakit, apa itu sebuah jawaban yang tepat.
"Sita, kamu kok tega banget, sih. Aku menolak Rangga, karena aku peduli dengan perasaanmu. Tapi, apa balasanmu? Inikah yang dikatakan sahabat?"
"Ini bukan persahabatan, tapi ini taktik."
Kata-kata yang menusuk,  mempercayai seseorang sepertinya adalah sebuah kebodohan. Tapi, semuanya hanya sesaat. Sakit hatiku pun hanya sesaat, seperti cepatnya detik beralih ke detik selanjutnya. Melepaskan cinta dan kehilangan sahabat, itulah pukulan yang akan kuterima. Ternyata, selama ini yang kuterima dari Sita, adalah sebuah sodoran sandiwara belaka.
Jika cinta sejati itu ada, telah kuketahui dia bukan untukku. Sebab Rangga, kini telah pergi tinggalkan sebekas penyesalan untukku.
“Mengapa dulu aku tak menerimanya saja?” itulah sesalku.
                Sahabat, tak lagi menjadi sahabat. Dan cinta, tak lagi menjadi cinta. Sebab keduanya, hanya penyesalan yang semestinya tak pernah ada.

TAK SEINDAH CERITA NOVEL



              

Cinta itu penuh akan kepalsuan. Cinta membuatmu mengharapkan apa yang semestinya tak kau harapkan. Bahkan cinta dengan kejamnya membuatmu tak sadar, jikala ceritamu tak selamanya berakhir indah.
                Puitis.... oh.. sungguh puitis.
Nama gue Nabila, usia gue 18 tahun. Berstatus mahasiswi narsis yang tak tau caranya jaim...... Gue suka membaca novel cinta, suka nonton drama percintaan, suka musik galau yang puitis, suka cowok, dan gue suka makan. YA! begitulah sikap gue, malu-maluin tapi ngangenin. Saat ini gue ngelanjutin kuliah gue di salah satu universitas swasta di kota Jakarta. Jurusannya gak usah di kasi tau yah, nanti pada kaget lagi.
                Hari-hari gue di kampus, YA apa adanya. Gue tomboy, dandanan gak keruan tapi jangan risau, gue cantik dan imut kok.
                Hari ini, hari pertama gue ngampus setelah seminggu bolos cuma buat ngabisin tumpukan novel yang nganggur di rumah Yeni. Yeni? Dia tuh sahabat gue, paling baek dan feminim, gak kayak gue. Gue sama Yeni udah temenan sejak SD, jadi gak perlu di raguin udah pasti kebayang akrabnya kayak gimana.
                Sabtu sore ini, gue dan Yeni ada janji buat malam mingguan bareng. Paling kalau bukan cuci mata di mol, baca novel semalaman juga gak ada salahnya.
                Well....well...well..... malam gak serasa makin larut, gue dan Yenipun keburu cabut dari mol, ya sebelum bokapnya Yeni ngamuk karna tau anak gadisnya gue bawa lari tengah malam.
                “Bil... gimana nih, udah jam berapa coba. Kalau bokap aku ngamuk gimana lagi” ucapnya cemas, sembari tetap mengendarai mobil jazz putih miliknya.
                “santai aja lagi, ntar gue cari ide. Lho tenang aja” ucapku dengan nada khas.
                Ssstssttstttt.............jjjrreetetttt...... gelap malam semakin mencekam, tiba-tiba saja Yeni menghentikan mobilnya tanpa sebab menurut gue. “napa Yen?” tanyaku membulatkan mata.
                “kayaknya aku nabrak deh Bil” ucapnya gugup.
                Guepun segera turun, buat ngecek keadaan. Gak nyangka yang Yeni takbrak, cowok cool men. Gue perhatiin dia dengan jeli, YA! sembari berharap dianya gak kenapa-kenapa. “waduh, Yen lho bener” pekikku. “lho gak apa-apakan? Ada yang luka gak?” lanjutku, bertanya pada cowok itu.
                “gak apa-apa gimana, lho gak liat apa.” Balasnya, sembari melirik ke arah motor gedenya. Walau gak terlalu gede juga sih. Cuma sejenis satria kok.
                “trus yang sakit mana?” tanya gue sok sibuk meraba lengannya.
                “gak usah pegang-pegang, gara-gara lho motor gue jadi rusak tau.”
                “gila lho ye, cuma motor lho juga. Lhonya sendirikan gak kenapa-kenapa, bawel amat sih” ucapku seakan tak bernafas. Sumpah, tuh cowoh emang cool, keren dan bisa dibilang ganteng lah. Tapi cerewet dan gila, ngeselin banget. “bawel amat sih, ya udah gue minta maaf”
                “maaf? Gila lho, lho mesti ganti rugi” pintanya.
                Mendengar perdebatan gue, Yenipun merasa risih dan ikut turun dari mobil. “ada apa sih?” tanyanya pada gue. “heh,, kamu gak apa-apakan?” tanyanya, sembari menggulung senyum masamnya.
                Cowok itupun hanya terdiam sepersekian detik, mungkin saja ia terpukau dengan kecantikan Yeni yang jauh lebih dari gue. “aku gak apa-apa kok, tapi motor aku yang kenapa-napa”
                “gila sama temen gue aja sopan banget, lagi pula cuma motor lho kok bukan nyawa lho” numbringku.
                “udahlah Bil” ucap Yeni menghentikanku. “ya udah kalau gitu mau kamu apa? aku buru-buru, kalau kamu mau nih nomor telpon aku. Silahkan hubungin kalau kamu mau komplen atau apalah” lanjut Yeni berlalu pergi. “ayo Bil” panggilnya.
                Guepun nurutin kata Yeni, emang lebih baik cabut daripada keburu lebih malam lagi. Yenipun memutar kunci mobilnya, dan mundur sampai pada ia benar-benar melajukan mobilnya secepat yang ia bisa. “minggir lho gila” teriak gue, saat melewati cowok aneh itu.
***
Sebulan setelah kejadian itu, gue dan Yeni gak pernah lagi keluar malam. Buat kendarain mobilpun Yeni sudah gak diizinin sama bokapnya, jadi kalau gak baca novel paling nonton drama percintaan, gitu deh kerjaan cewek kayak gue.
                Dua bulan tepatnya setelah kejadian itu, di kampus seketika menjadi ramai seramai-ramainya, bahkan heboh sejadi-jadinya. Gak tau ada apa? Ya gue sih cuek-cuek aja, orang gak penting juga. Hari ini Yeni gak ngampus karena demam, dasar anak manja.
                Saat gue melewati gerbang masuk, bussyyeeett....... rame betul, kayaknya orang yang gak pernah ke kampus pada rajin atau yang udah lulus juga pada datang lagi? Kayak reunian aja, rame boo. Gak pengen ambil pusing, gue nyerocos aja masuk gak pengen nanya-nanya apalagi ikut campur, GILA!
                Pukul 14.33 kampus udah mulai sepi, seharian di kampus gue hanya nongkrong di perpus buat baca novel. Waduh gila, duit habis dapatnya bukan ilmu tapi malah mimpi ketemu pangeran ganteng kayak novel-novel terjemahan. Merasa bosan setelah ngehabisin 2 novel maha tebal, gue langsung cabut buat liat keadaan sogib gue Yeni.
                Gubrakkkk... dusss... waduh baru selangkah ninggalin pintu perpus gue udah kejendot dengan benda yang mungkin udah batu kali. “ello”pekik gue.
                “lho lagi” balas suara itu, sambil mengusap-usap keningnya.
                “GILA! Kepala lho keras amat” kataku melakukan hal yang sama “ngapain lho disini?”
                “heh.. lho tuh yang ngapain, orang gue disini buat belajar kok”
                “Oh gitu ya...”
                “dasar”
                “heii.... gue disini juga bayar kok, ya tapi bukan buat belajar sih. Tapi buat numpang ke perpusnya doang, baca novel” kataku cengengesan.
                “apa? Parah lho”
                Aneh bin ajaib, mungkin kata itulah yang ada dalam benak lho-lho semua. Lho pasti gak tau siapa guekan? Gue ngampus disini, memang bisa di hitung jari gue masuk belajar. 10 pertemuan paling banyak kali ya. gue kasi tau gue ambil jurusan matematika lho. Hebatkan gue, iyalah Nabila gitu. Lanjut! “ough ya. soal malam itu gue minta maaf ya. lho maklum ya hari itukan udah malam banget jadi cewek temprament kayak gue wajarlah kalau ngomong kasar kayak gitu. Sekali lagi gue minta maaf ya. atas nama teman gue juga, soalnya lho gak pernah telpon sih” kataku basa-basi, tapi panjang bin lebar.
                “gak apa-apa lagi, gue juga minta maaf. Lagi pula motor gue juga cuma lecet dikit kok. Dan gue juga gak kenapa-kenapa. Ough ya nama gue Rangga”
                “gue Nabila” balasku menggulung senyum semanis-manisnya.
                Sumpahnya cowok ini tuh keren banget, ternyata dia gak segila yang gue pikir malam itu. “ough ya, gue cabut duluan ya. bye” ucapku melambai.
                “lho mau kemana” cegatnya.
                “biasalah, gue pengen ke rumah teman gue. Kenapa emangnya?”
                “temen lho?”
                “iya.. udeh deh nanyanya besok aja, gue buru-buru” balasku berlalu.
                Mungkin cowok itu berfikir gue ini cewek oon yang super sibuk, tiap ketemu ujung-ujungnya pasti bilang lagi buru-buru.
***
                Waktu. Lho tuh ya, gak biasa liat orang nikmatin hidup apa. Berlalu seenaknya saja, tapi itulah tabiat sang waktu. Semakin berlalunya hari, gue pikir makhluk bernama Rangga itu adalah makhluk nyebelin, tapi ternyata dugaan gue salah. Setiap hari gue, Rangga dan Yeni sering ngumpul bareng, ya bisa dibilang kami tuh sahabat baru gitu.
                Tapi nggak lama gue kenal dia, gue seakan ingin tau banyak tentang hidup dia. Mungkin gue suka sama dia, tapi entahlah gue percaya kisah gue ada akhir tersendirinya.
                Sudah hampir setahun kami berteman, kemana-mana selalu bareng. Bahkan bisa dibilang Rangga tuh bodygard gue sama Yeni gitu. Penghujung Desember gue pengen ciptain sejarah baru dalam diary hidup gue. Gunung, ya! gue pengen taklukin gunung. “woii..... gimana akhir bulan ini kita ke gunung?” tanyaku.
                “apa? Bil kamu gila apa? Gunung?” balasnya terkejut “keren juga sih, tapi aku gimana dong pasti 100 persen gak bakal dapat izin” lanjut Yeni mendenggus.
                “wahh.... ide yang bagus tuh. Kapan nih rencananya?” Tanya Rangga antusias.
                “tanggal 27 gimana?”
                “heii.... kalian gimana sih, aku kan pengen ikut.”
                “ya kamu ikut aja” ucap Rangga enteng.
                GILA! Gunung emang keren, tapi pergi tanpa sohib gue Yeni, udah pasti gak seru. Yeni juga bener kalau 100 persen pasti gak bakal diizinan sama boyoknya tuh. “gini aja Yeni, gimana kalau gue yang mintain izin ke bokap lho?” tawarku.
                “apa bisa berhasil?”
                “memang kenapa sih, ayolah kitakan udah gede masa izin gitu aja gak bisa sih”
                “woii.... lho ngomong gampang men, tapi kenyataannya gak kayak gitu” timpalku pada Rangga.
                “kalau gitu aku gak usah ikut deh” katanya lesu.
                “ya ampun... Yeni sayang, pergi gunung kayak gini tanpa lho? Gak seru dong”
                “ya abis mau gimana lagi”
                “gue yang izinin titik”
                “apa bisa berhasil?” tanyanya cemas.
                Dua hari mendekati hari H, gue udah sibuk nyusun seribu lembar jawaban dan alasan di otak gue buat bisa bawa kabur sohib gue ke tuh puncak gunung. Gue sih enteng-enteng aja, boyok gue di Bali jadi udah pasti bisa bebas. Kalau Rangga ya udah pasti juga diizinin, masa cowok di wanti-wantiin kan gak lucu.
                Sorenya gue bener-bener nekad buat mintain izin sohib gue. Guepun meraih sweeter dan ponsel gue.
-Ngga lho dimana? Jemput gue kita ke berangkat rumahnya Yeni.SEKARANG- terkirim.
            Gue segera mengirimkan pesan singkat kepada Rangga, karena memang gue udah janji sama Yeni buat nolongin dia minta izin. Tak lama pesan gue terkirim Ranggapun datang dengan motor kesayangannya.
            Sepanjang perjalanan gue cuma bisa mandangin punggunya dari belakang, dia emang cowok yang cool. Dari awal gue liat dia gue udah jatuh cinta, cowok idaman seperti dia siapa juga yang gak seneng kalau diboncengin kayak gini.
            “hei.. tumben lho diem. Kenapa?” tanyanya mengagetkanku.
            “aaaa.... gak kok gue lagi gak enak badan aja” balasku. Tiitttttttt...... tiba-tiba saja dia menghentikan motornya. “kenapa?” pertanyankupun tak dia hiraukan. Segera dia turun dari motor, yang cuma bisa gue ikutin dengan tampang yang gak tau apa-apa.
            “lho sakit apa?” tanyanya cemas, sembari menempelkan telapak tangannya di dahi gue.
            “apa sih lho, gue gak kenapa-napa kok” balasku menepis tangannya. Tiba-tiba saja, waktu itu serasa jantung gue pengen berhenti berdetak. ‘dia perhatian banget sama gue’
            “gue kirain lho sakit. Denger ya cewek jadi-jadian kayak lho tuh, sakit udah makanan sehari-hari. Cepat sembuhnya” katanya tersenyum lepas.
            Hari itu gak bakal gue lupa. Itulah salah satu alasan gue suka sama dia, tapi gue cuma nunggu waktu kapan dia bakal nembak gue, karena gue yakin dia juga suka sama gue.
***
            Hari mendakipun tiba, tujuan kami tak lain adalah Gunung Sameru. Gunung terkeren yang selalu gue impi-impiin bisa taklukin suatu hari nanti, dan saat inilah saat itu.
            Singkat cerita, perjalanan bener-bener gue nikmatin. Dan diperjalanan itu, gue ngerasa kalau Rangga itu juga suka sama gue. “Bil, gue pengen kasi tau sesuatu ke ello” ucapnya di tengah perjalanan.
            “apaan?” tanyaku penasaran. ‘apa dia mau nembak gue?’
            “nanti aja ya, setelah kita sampai dipuncak”
            Guepun cuma bisa mengangguk, bener-bener gue serasa udah terjun tuh dari puncak gunung. Setahun gue suka sama Rangga akhirnya sebuah cerita yang indah akan tercipta juga. Ternyata diam-diam suka sama seseorang itu indah ya, karena pada akhirnya kita bisa menebak jalan cerita kita sendiri.
            Gue seneng, dalam pendakian Rangga banyak buat gue tertawa. Perjalanan lebih indah, Yeni pun tatkala menikmati pemandangan yang disuguhkan sang alam.
            Pendakian yang sangat-sangat lama,butuh waktu 12 jam buat bisa sampai ke puncak. “waahh.... pemandangan yang indah.AAAAAARRGHHHH” pekikku.
            “wah keren banget” timpal Yeni.
            “lihat itu sunrise” ucap Rangga, menunjuk ke kaki langit timur.
            Kamipun terdiam cukup lama, sungguh pemandangan yang sangat indah. Pengalaman hidup gue, bener-bener akan berakhir seperti cerita novel. Bersamaan matahari terbit, Rangga menarik pergelanganku meninggalkan Yeni yang tampak benar-benar menikmati keindahan itu. “gue pengen ngomong sesuatu ke ello Bil” ucapnya menegang.
            “apaan?”
            “guu..guu..gue.. suka” ucapnya terbata.
            ‘dia pasti mau nembak gue, akhirnya penantian gue menemui titik terangnya’ ucapku dalam hati.
            “hhmmmm” iapun menarik panjang nafasnya. “gue mau ngomong. Apa lho mau...”
            “mau apaan? Ngomong aja kali, gue udah siap kok” kataku bersemangat.
            “apa lho mau bantuin gue, buat nyatain perasaan ke Yeni?”
            “apa?” tanyaku, ‘rasanya sakit banget, ternyata Rangga suka sama Yeni? Lalu selama ini apa? Jadi dia Cuma PHP-in gue gitu?’ geramku dalam hati.
            “iya gue mau nembak Yeni, tapi gue masih gugup”
            “ya. kalau lho mau nembak, nembak aja gak usah kasi tau gue” ucapku berlalu meninggalkannnya.
            “jadi gue bilang sekarang nih?” teriaknya. Yeni pun hanya menoleh sesaat, dan si gila Rangga bener-bener nembak Yeni.
            Hati gue bener-bener sakit, jadi selama ini perhatian yang Rangga beriin tuh apa? Gue berubah karena dia, gue jadi rajin kuliah karena dia, gue gak galak lagi karena dia, semuanya karena dia. Semuanya karena gue fikir dia juga suka sama gue, baru kali ini gue bener-bener suka sama orang sampai bertahan setahun, baru kalain ini gue bisa mendem perasaan gue, baru kali ini.
             Gue gak nyangka, novel-novel itu mempermainkan gue. Rangga bener, kalau gue itu cuma cewek jadi-jadian yang makanan sehari-hari gue tuh cuma kesakitan. Sekarang mereka udah jadian, nasib gue benar-benar malang ya mas, mba bro.
            Cerita gue yang buruk, maunya melengkapi cerita indah dengan mendapat pengalaman saat ke gunung dan jadian dengan Rangga malah musnah, semuanya hanya tinggal angan. Semuanya tertinggal di jejak pendakian gue. Gue gak mau lagi naik gunung, gue gak mau lagi baca novel, gak mau lagi nonton drama percintaan.
            Tapi bagaimanapun, Yeni tetaplah sahabat gue sampai kapanpun. Biar dia jadian dengan si Rangga PHP itu, dia tetap bakal jadi sohib gue. Saat ini juga gue mau stop mimpiin cerita indah, karena gue sadar dunia novel dan dunia gue tuh berbeda.
***
            Hingga saat ini gue tetap bersahabat dengan Rangga, walaupun tak seakrab dulu. Karena apa yang gue lakuin semuanya buat sahabat gue Yeni.
            Ya walau bagaimanapun, ini tetap kisah gue. Kisah yang sempat indah walau pada akhirnya tetap berujung kepahitan.
            Saat ini gue sudah punya kehidupan baru, dan gue udah rajin kuliah. Tapi bukan karena Rangga lho, tapi karena gue pengen benar-benar nikmatin dunia gue.
            Dan gue janji bakal buat novel yang sesuai dengan kehidupan gue, gue gak mau lagi ngikut-ngkutin akhir cerita novel, tapi gue mau novel yang ngikutin kisah gue. Inilah gue Nabila, si cewek narsis.
***BYE***