
Tok... Tok... Tok... Bunyi titikan, sisa hujan kemarin malam, seakan masih terdengar pasif di malam ini. Irama jangkrik berdendang, ciptakan suasana yang terasa hidup. Malam ini, mataku sungguh tak dapat terpejam. Berjalan ke sana kemari, namun tak juga lelap menyapaku.
"Ya..... Selamat malam buat kalian para jomblo, yang malam ini belum bisa tidur. Kenapa? Tapi jangan risau, ada mba Metha yang bakal menemani malam anda kali ini. Tapi, Jangan mendengarkan berita kami sendirian, karena kami akan membawakan sebuah cerita berhantu....." celoteh penyiar di tempat antahbranta sana.
Kugubris
kata-kata penyiar idiot itu, dan kualihkan tatapanku pada kursi goyang di ujung
lorong sana. Masih terbayang jelas peristiwa itu. Bersandiwara ingatan ini,
kembali bernostalgia ke waktu sepuluh tahun silam.
***
"Hahaha..... Bunda, bunda.
Lihat itu, wah..... Mataharinya cantik ya bunda. Ayo lihat itu," seruku
bergerak-gerak di pangkuannya. "Wah..... Iya ya, mataharinya cantik. Tapi sayang, sebentar lagi mataharinya pasti bakalan terbenam. Gak ada lagi deh," balas bunda merangkulku.
"Ya..... Hmmm..... Kasihan mataharinya bunda.”
"Lah kok Putri nangis, sih? Kan mataharinya capek, jadi mau tidur dulu. Besok pagi juga sudah ada lagi kok.”
"Benar?"
"Benar dong, memang bunda pernah bohong sama Putri?"
"Hmm....." gelengku mantap. Waktu itu, aku baru berusia tujuh tahun. Pun disaat itu aku hanya tinggal berdua dengan bunda.
"Bunda... Kalau mataharinya sudah gak capek, besok bisa bersinar lagi?"
"Iya dong"
"Wah..... Bunda, bunda..... Besok kita lihat mataharinya muncul, ya? Ya bunda?" ajakku. Bunda pun hanya tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya.
"Janji?" ucapku mengacungkan jari kelingking.
"Janji.”
***
Benar-benar
rekam itu kembali memutarkan kisah yang tergantung. Waktu itu bunda berjanji
akan menemaniku melihat matahari terbit, tapi apa? Yang ada aku melihat bunda,
terkapar lemah di tempat tidurnya. Mulut berbusa, dan mata yang membulat.
Terkejut, hanya itu yang kubisa.
Saat
ini 12 Desember, alur-alur itu terus berbolak-balik diingatanku. Kurasakan
hembusan angin itu begitu menyeruak. Gedap..... Gedup.... Gedap..... Gedup.....
Jendela di samping kursi itu, tak hentinya menutup dan membuka. Kuraih secarik
kertas dalam laci di sebelahku, kemudian berjalan ke kursi goyang yang lapuk
termakan rayap.
-Putri, maafkan bunda sayang. Maafkan bunda sebab harus meninggalkanmu sendirian. Bunda sayang sama Putri, jadi Putri harus jadi anak yang baik. Jangan cengeng ya? Maafkan bunda sayang. Bunda harus pergi, bunda percaya, kalau Putri pasti bisa hidup tanpa bunda. Seperti matahari yang hidup sebatangkara di angkasa sana. Putri sayangku, berjanjilah untuk hidup layak. Bunda percaya, putri bisa mengerti apa yang bunda lakukan. Kelak setelah kamu dewasa, nak.-
-Putri, maafkan bunda sayang. Maafkan bunda sebab harus meninggalkanmu sendirian. Bunda sayang sama Putri, jadi Putri harus jadi anak yang baik. Jangan cengeng ya? Maafkan bunda sayang. Bunda harus pergi, bunda percaya, kalau Putri pasti bisa hidup tanpa bunda. Seperti matahari yang hidup sebatangkara di angkasa sana. Putri sayangku, berjanjilah untuk hidup layak. Bunda percaya, putri bisa mengerti apa yang bunda lakukan. Kelak setelah kamu dewasa, nak.-
kalimat
itu seakan sebuah tanda tanya besar buatku.
"Aku tak habis fikir,
mengapa bunda sampai melakukan hal itu? Tapi entahlah, suatu saat nanti pasti
aku akan mengerti. Benarkan?" tanyaku pada sosok gadis kecil berambut
pirang di sebelahku.
Tak
terasa, matahari kini mulai menampakkan dirinya. Biasan cahayanya menembus
masuk melalui celah-celah kayu yang bersarang jaring putih. Aku tersadar, jika
hari ini adalah hari peringatan kematian bunda. Tahukah? Setelah kepergian
bunda yang tragis itu, aku hanya tinggal sebatangkara. Menutup diri dari
lingkungan luar, sebisaku hidup layak tanpa bantuan mereka. Tak ingin larut
dalam lamunan pahit, aku pun meninggalkan ruangan tua ini.
"Tunggulah di sini, aku akan
segera kembali," ucapku lagi pada sosok gadis berambut pirang itu. Namun
gadis tersebut hanya tersenyum tipis.
Waktu
kini telah menunjuk pukul 08.45. Kembali kuingat kejadian kemarin malam, disaat
seorang penyiar radio yang berusaha menceritakan kisah berhantu. Namun tak
kuketahui alurnya, sebab tenggelam dalam lamunan masa lalu.
Kuberjalan
gontai, bagai raga yang tak bernyawa. Kulihat wanita di dalam sebuah benda
datar, dengan kaos hitam dengan celana jeans selutut membuatnya terlihat begitu
miris. Ditambah dengan rambutnya yang terurai.
"Kau terlihat cantik
Putri," ucap sebuah suara. Aku pun membalikkan badan 180 derajat, namun
hanya tirai sobek yang kujumpai. Kupusatkan lagi fikiranku pada sosok dihadapku
kini. Matanya terlihat tak ada tanda kehidupan, wajahnya yang pucat, tanpa ada
polesan make up sedikitpun. "Tersenyumlah Putri," suara itu tak kunjung bergeming. Hingga kulangkahkan kakiku beranjak dari sosok aneh itu.
"Putri kesanalah..... Lihat lukisan itu," perintah suara itu terus menerus. Aku pun menurutinya, melangkah seakan tanpa arah yang pasti. Sebenarnya, aku cukup kasihan pada diriku. Awal-awal kepergian bunda, aku tak semiris ini. Namun memasuki tahun kesepuluh ini, berkisar sebulan yang lalu. Barulah hidupku berubah dramatis seperti sekarang ini. Setiap hari, suara-suara itu selalu menghantui aktivitasku.
"Lihatlah.....
Bukankah lukisan pedesaan itu indah? Apa aku boleh ke sana untuk
melihatnya?" tanyaku pada gadis berambut pirang tersebut. Namun lagi-lagi
ia hanya tersenyum tipis.
Kuhampiri
jendela lapuk di balik tirai sobek itu. Langkah yang ringan, dan hanya
bergeming lantai beralas papan di bawahku. Kuulurkan tanganku, menyentuh
sedikit demi sedikit gagang yang seakan membeku terhempas angin kebisuan.
Nggggiiiaaanng...... Suara desis engsel jendela, bak memperkenalkan dirinya
yang menua termakan waktu.
"Sungguh bahagia
mereka," lirihku mengintipnya dari jendela. "Teman-teman lihat. Jendela rumah berhantu itu terbuka. Aaaahhh...." teriak anak di bawah sana. Sungguh miris bukan? Bahkan hingga saat ini aku belum tahu, mengapa bunda meninggalkanku.
Kubalikkan
tubuhku menghadap ke kursi goyang itu lagi. Bergerak, kursi itu tak
henti-hentinya bergerak. Membuatku kembali mengingat sosok bunda yang
kurindukan.
Tiktok.....
Tiktok..... Tiktok..... Perumpamaan jarum jam yang terus berputar tanpa lelah.
Aku pun berjalan menuju kamar berdinding biru di depan sana. Di perjalananku
yang singkat, aku kembali terhenti di depan sebuah benda datar yang dipenuhi
goresan garis lurus disekujurnya.
"Dimana sosok itu?"
tanyaku terkejut.
Tumpahan
hujan pun hadir bersamaan dengan tuan geledek, hempaskan jendela lapukku hingga
terlepas dari engselnya. Tok.... Tok.... Tok.... Lantai papan itu pun akhirnya
mengelurkan suara. Aku segera bangkit dan menengok asal suara.
"Mau apa mereka
kemari?" tanya suara itu tiada henti. Sekelompok orang memasuki rumahku, dan terus berjalan ke arah ruangan kosong yang tak kuketahui isi di dalamnya.
"Aaaahhh...." pekik beberapa orang diantaranya.
Aku semakin terkejut saat orang-orang itu mengangkat tubuh seorang gadis kecil berambut pirang.
"Kasihan Putri..... Mayatnya sudah begitu dingin dan membusuk. Lebih baik kita segera memakamkannya," ucap pria itu memimpin.
Kuperhatikan
jejak-jejak tapak kaki mereka di anak tangga yang telah rapuh tersapu hujan.
Aku berfikir. Jika mayat itu adalah Putri, lalu aku?
0 komentar:
Posting Komentar